LAB Teater Ciputat

Refleksi Perjalanan Laboratorium Teater Ciputat (LTC)

Laboratorium Teater Ciputat (LTC) didirikan pada 1 Desember 2005 oleh sejumlah pegiat seni (teater) di Ciputat, Tangerang Selatan, yang bertujuan menjadi bagian dalam sejarah perkembangan seni Indonesia. Demi mencapai tujuan tersebut, sebagai organisasi yang terbuka dan mandiri, LTC  menggelar proses penciptaan yang bertolak dari workshop, diskusi, penelitian, observasi dan  live in yang berkonsentrasi pada isu dan problematika masyarakat urban termasuk dunia spiritualitasnya.  Misi utamanya adalah sebagai grup teater yang berorientasi pada pencapaian karya artistik yang dapat diterima berbagai kalangan. Kedua, memformulasi metode teater sebagai media pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, Memosisikan kesenian sebagai media yang dapat mempertemukan berbagai kepentingan. Pilihan ini membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak, dan kontribusi dari beragam lintas disiplin, pengetahuan dengan mempertimbangkan nilai-nilai kebudayaan.

Dalam proses perjalanan, misi di atas,  ternyata dapat saling mengisi dan menguatkan. Proses latihan teater menjadi berkembang, disebabkan rekaman kuat para pemain dari hasil persentuhan langsung dengan masyarakat melalui program pendampingan. Sebaliknya, proses pendampingan mendapatkan pengayaan metode dan strategi dari hasil proses penciptaan teater di LTC. Hasil akhir keduanya,  baik dalam bentuk karya pertunjukan, maupun event sebagai proses  pemberdayaan dan media yang mempertemukan kepentingan, sesungguhnya dapat berdiri sendiri. Di beberapa kesempatan, kedua hasil itu tak jarang dipadukan, yang justru menimbulkan konsekuensi berupa ketegangan antara kepentingan nalar kreatif dan kebutuhan  pragmatis. Namun upaya ini sesungguhnya diniatkan sebagai strategi untuk membongkar berbagai keterbatasan dalam proses penciptaan, ruang lingkup garapan, strategi komunikasi dan peluasan jaringan kerjasama yang dapat menguatkan proses  berteater itu sendiri.

Tema-tema yang digarap LTC adalah dinamika yang terjadi dalam masyarakat masa kini, kaum urban. Kecenderungan tersebut sangat kuat terasa dalam pertunjukan Kubangan, salah satu karya yang membutuhkan waktu panjang dalam proses penciptaannya. Pertunjukan dipentaskan di sebuah panggung catwalk sepanjang 16 meter yang membelah ruang pertunjukan, dan menempatkan penonton di sisi kanan dan kiri panggung. Pentas Kubangan mengungkap bagaimana kehidupan urban telah membuat tubuh manusia kota mengalami kekacauan dan trauma hingga  kehilangan unsur-unsur naturalitasnya. Trauma masa lalu yang belum usai dan masa depan yang kabur membuat mereka berada dalam ketegangan dan kegagapan yang tak berkesudahan. Suatu kritik terhadap era globalisasi yang ditampilkan di sejumlah kota di Indonesia tahun 2007-2009.

Pengalaman artistik tersebut mendapatkan afirmasi melalui keterlibatan LTC dalam proses pendampingan ibu-ibu korban kekerasan 1998. Dengan menggunakan teater sebagai media  pengobatan traumatk, LTC menawar metode latihan teater gembira, bersama mereka dalam semangat menatap masa depan. Dalam pertemuan cukup intensif yang difasilitasi KONTRAS lahirlah karya yang berjudul “Terjepit” yang bertolak dari pengalaman pahit, kondisi sosial ekonomi dan harapan yang masih mereka miliki. Karya bersama itu dipentaskan di beberapa kampung Jakarta, yang sangat memberi kesan bagi keberadaan mereka sebagai korban kekerasan negara.

Di tahun yang sama, LTC melakukan riset kecil di suku Baduy  sebagai cara untuk membuat jarak dari  pergulatan kreatif di kota metropolitan dalam mata batin masyarakat pedalaman. Dari situ lahir ide karya pertunjukan yang mengusung kesunyian manusia dan dunia diam. Para aktor menggali kata kunci itu lewat berbagai cara, antara lain; workshop diam selama beberapa hari di tempat khusus, dan menggali tokoh lewat karya fiksi pilihan mereka. Pada perkembangan prosesnya tercetus karya berjudul Cermin Bercermin yang mengusung tema manusia adalah cermin bagi manusia atau makhluk lain. Cermin akan menggambarkan apa adanya kondisi objek pantulan. Bila cermin buram atau retak maka retak atau buramlah pantulannya. Sebagaimana judulnya, panggung semi arena dipenuhi cermin retak dan tidak retak dalam berbagai ukuran, mulai dari pintu masuk hingga memenuhi bagian belakang panggung.

Perjalanan LTC selanjutnya melakukan proses intermediasi kultural di pulau Panggang-Pramuka di Kepulauan Seribu tahun 2010-2013. LTC bekerjasama dengan semua lapisan warga mulai dari kaum Ibu, pemuda, nelayan, guru, agamawan, pengusaha kapal wisata dan pemerintahan setempat. Bersama Hivos, SPK Samo-Samo dan Sanggar Apung, LTC mengawali kerja kulturalnya dengan membuat riset budaya pulau panggang yang merupakan pulau tertua dan terpadat di kepulauan seribu. Dari projek perdana ini, terbit sebuah buku berjudul “orang Pulo Di Pulo Karang” yang menjadi dasar dari kerja lanjutannya. LTC melakukan kerja lapangan melalui pelatihan kesenian, kolaborasi seni pertunjukan, pelatihan kuliner dan puncaknya; menyelenggarakan ritual hajatan Pulang Babang bersama masyarakat setempat, dan pertunjukan teater warga pulau, berbasis mitologi pulo Panggang. Kerja intensif itu merupakan perkembangan dari pelatihan teater dan hubungan baik bersama pemuda pulau Pangang-Pramuka sejak 2002.

Dampak dari kerja di atas, semakin menguatkan posisi LTC sebagai kelompok teater yang bergerak dan berkarya di antara eksklusivitas karya seni teater dan inklusivitas proses penciptaannya. Sikap ini kemudian yang mengantarkan LTC bersedia terlibat aktif di kawasan Hutan Sangga Buana Kali Pesanggrahan Lebak Bulus. Keterlibatan LTC dimulai dari riset kecil tentang Kali Pesanggrahan yang menjadi pilihan tema dalam proyek “Kota Tenggelam” yang digagas DKJ 2012-2015. Proyek ini semacam momentum perkenalan intensif LTC dengan H.Chaeruddin (Babeh Idin), peraih Piala Kalpataru. Sosok yang kuat memegang teguh atas keyakinan dan penghormatan pada alam. Sosok pekerja keras tanpa pamrih yang berupaya mengembalikan  ekosistem bantaran kali Pesanggrahan di perbatasan Bagiain Selatan Kota Jakarta, di laboratoriumnya; Hutan Sangga Buana.

Perkenalan itu melahirkan komitmen LTC untuk belajar hal baru dan bekerjasama dengan Komunitas KLTH Sangga Buana melalui pendekatan live in baik secara individu maupun secara organisasi. LTC bekerja dengan merespon apa yang dilakukan dan menjadi tradisi di kawasan tersebut. Sejak 2014, LTC aktif membersihkan hutan, menjaga, menata dan mengelola pemanfaatan hutan, sekaligus belajar tentang kearifan lokal dan nilai budaya masyarakat setempat.  Selama 3 tahun LTC melahirkan kerja-kerja kultural yang menguatkan misinya untuk turut serta mendesiminasi pemanfaatan hasil karya konservasi alam yang dilakukan Komunitas KLTH Sangga Buana kepada khalayak luas. Di saat yang bersamaan, keterlibatan LTC di kawasan unik itu melahirkan karya teater berjudul Sedekah Sungai, Mata Air Mata, Suluk Sungai dan Penjara Hujan yang mengusung dunia spiritualitas urban, kapitalisme global dan problem konservasi alam. 

Akhir tahun 2017, LTC menggelar kegiatan KALIKALIKU di Kandang Jurang DikDoang setelah masa live in di Hutan Sangga Buana sudah selesai. Kegiatan ini sebentuk refleksi perjalanan berteater LTC selama 12 tahun yang didukung program FKK Kemendikbud. Gelaran acara selama dua hari itu diniatkan pula untuk kembali menguatkan jaringan kesenian di wilayah Tangerang Selatan, pelajar-mahasiswa, akademisi dan masyarakat lokal sebagai basis sosial kultural LTC. Menimbang jejak pengalaman kerja kultural di atas, membuat LTC merasa berkebutuhan untuk menguatkan basis sosial kemasyarakatan di lingkungan terdekatnya; Tangerang Selatan. Bekerja dalam ruang lingkup penciptaan karya dengan para seniman lintas disiplin, dan bekerja dalam proyeksi pendampingan sosial budaya dengan masyarakat sekitar. Kegiatan dikemas dalam bentuk pameran arsip yang dikurasi Sartika Dian, diskusi seni dan HAM, pementasan  musik, workshop metode penciptaan karya dan sketsa pertunjukan terbaru LTC, berjudul XQM4GZ.

Di samping kerja-kerja kultural yang langsung berkenaan dengan komunitas masyarakat tertentu, LTC memformulasi materi pelatihan teater umtuk kalangan professional, yang bersumber dari proses pelatihan dan penciptaan karya LTC, serta pengalaman melatih dari program guru teateral di Federasi Teater Indonesia. Rumusan modul materi pelatihan itu diberi nama “To Be Main Actor” yang berdurasi minimal tujuh hari. Materi dibagi dalam pengolahan potensi lima kesadaran manusia, antara lain; kesadaran diri, kesadaram ruang dan lingkungan, Kesadaran terhadap orang lain, kesadaran kreasi, dan kesadaran tim work. Hal ini bagian juga dari cara LTC membumikan kembali teater dalam kehidupan masyarakat. LTC memandang bahwa masyarakat selayaknya memahami fungsi teater lebih dari sekedar Hiburan. Pengalaman para pelaku di LTC selama sepuluh tahun berbagi metode pelatihan teater yang dikemas lebih aplikatif, dinilai banyak kalangan cukup efektif untuk meningkatkan potensi, menguatkan karakter dan memotivasi kapasitas para profesional sebagai aktor di masing-masing ruang lingkup kerja dan pengabdiannya.

Yayasan Laboratorium Teater Ciputat
Komplek Sinar Pamulang Permai, RT 003 RW 0019. Blok B 9. No 9, 
Pamulang Barat Tangerang Selatan, 15417 
Banten  Indonesia

Nara Hubung :
Rosida Erowati : +62 813-8011-1228
Sarah Nurmala : +62896-2129-5926

Rekening BRI Giro :
An. Yayasan Lab Teater Ciputat Norek 0382-01-000745-30-1 Cabang Ciputat

JEJARING