Seniman

Washadi

Catatan Keaktoran

Bentuk adalah Tubuh

Washadi

 

“Tidak ada proses yang tidak menyakitkan

dan tidak ada proses yang tidak menghasilkan.”

 

Saya ingin bercerita tentang mengawali sebuah proses dalam latihan yang seringkali saya niatkan dalam pertunjukan-pertunjukan di Lab Teater Ciputat pimpinan Bambang Prihadi. Membongkar perangkat-perangkat dalam tubuh sebagai pusat artistik, mungkin seperti itulah premis awalnya. Tanpa tubuh yang belum terolah, pertunjukan menjadi tidak niscaya. Tubuh harus kuat, supaya struktur pertunjukan memiliki energi yang kuat. Kira-kira, begitulah yang saya yakini.

Jalan panjang menemukan tubuh adalah target. Terkadang target ini bisa menjadi kendor karena distraksi fokus dan pikiran. Saya merupakan seorang yang galak terhadap tubuh saya sendiri. Di Lab Teater, kemanjaan-kemanjaan saya sedikit demi sedikit terkikis bersama latihan-latihan berat. Saya seperti menemukan jalan lain sebuah aktualisasi: bahwa untuk mendapatkan tubuh yang ajeg dan kokoh, saya harus merelakan bersepeda berjam-jam sehari, atau stomping ala Tadashi Suzuki setiap menjelang hari turun senja.

Bagaimanapun tubuh bagian penting karena tubuh bagi saya adalah wadah dan rumah, bagaimana kita akan membicarakan soal-soal yang tinggi dan rumit sedangkan badan sebagai wadah blecetan kemana-mana. Tulisan ini tidak akan kemana-mana, karena saya hanya ingin memberi sebuah pernyataan bahwa sampai sekarang saya percaya pada tubuh. Bentuk (dalam teater) adalah tubuh. Jika tubuh sublim, maka panggung pun sublim. Mungkin pernyataan ini terdengar sangat fundamental. Tetapi memang demikian, setidaknya untuk saat ini, ketika saya telah menjalani proses tebal dan keras dalam teater yang saya jalani.

(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *