Seniman

Sarah Nurmala

Catatan Keaktoran

 

Sarah Nurmala

 

Setiap langkah memang selalu dihadapkan pada pilihan dan memilih itu berarti harus mengorbankan. Memilih untuk ada di teater itu merupakan sebuah keputusan yang besar,  namun sejauh ini apakah saya sudah mutlak memilih? Lagi-lagi memilih, seperti tokoh perempuan dalam “Penjara Hujan” yang memilih untuk tetap tinggal walaupun kekasihnya memohon hendak bertemu.

Bertemunya saya dengan Lab teater ibarat bertemu dengan kekasih. Sumringah ketika hendak bertemu, begitulah setiap kali yang saya rasakan apabila waktu latihan mulai tiba. Metode latihan dimulai dengan dikenalkannya saya dengan Metode Tadashi Suzuki. Metode tersebut berfokus pada tubuh namun melingkupi segala elemen seperti kekuatan, konsentrasi, vokal dan sebagainya. Yang semuanya bertumpu pada kaki. Saya sangat tertarik dengan latihan yang mengolah tubuh, terutama ketika tubuh dilatih agar mampu mengenali setiap jengkal dan sumber energinya.  Walau lelah tapi setiap bulir keringat yang jatuh merupakan nikmat bagi saya.

Ketertarikan saya akan pengolahan tubuh selaras dengan metode Lab saat ini. Yang saya ketahui dari karya –  karya lab sebelumnya ialah bentuk eksplorasi yang menghendaki setiap aktor mampu melakukan gerakan di luar batas kemampuan tubuh sehari-harinya. Namun, agaknya saya menghadapi kesulitan dalam hal eksplorasi dan imporovisasi,  karena awal berkecimpung dalam teater,  saya selalu dijejali naskah-naskah teater yang beralur. Saya selalu memainkan sebuah karya yang memiliki cerita linier. Mungkin sebut saja aktor naskah. Dan ketika bergabung dengan lab, saya paham bahwa para aktor tidak serta merta menjadi pelaku,  namun juga kreator, baik dalam perkembangan ide, bentuk, adegan maupun dialog. Ibarat sutradara membangun fondasi dengan ide dasar, lalu aktorlah yang mengembangkan dengan berbagai macam pengalaman, cerita dan pengetahuan.

Namun baru sekali waktu saya bermain tanpa kata, tanpa lawan main, tanpa alur cerita yang utuh, timbul ke dalam diri, tumbuh di dalam hal-hal di luar nalar sehari-hari. Kadang-kadang saya dramatis, memainkan cerita perempuan yang tragis. Berbeda dengan yang lainnya, aktor-aktor bermain dengan tubuh dan gerak.  Di Penjara hujan saya dan Eko Yuds bermain dengan cerita dan ada naskah. Sialnya, terkadang saya juga muak dengan adegan dramatis, puitis, tragis. Seperti miskin pemeranan rasanya,  sewaktu-waktu memberontak untuk hal-hal yang dramatis,  bahkan tanpa saya sadari dalam realitasnya, saya jadi muak dengan tangisan menye-menye dan sesuatu yang dilebih-lebihkan oleh orang lain. Bermain peran bagi saya adalah bermain rasa. Dalam “Heart of Almond Jelly”, jelas berdampak untuk realitas saya. Memang rasa bisa timbul dan kemudian hilang. Timbul ketika kita sedang tidak bersentuhan, dan hilang ketika kita sering bersentuhan. Setelah tahu bahwa saya ternyata mempunyai modal dalam lini rasa, alangkah baiknya saya menyeimbangkan dengan tubuh dan logika.  Agar rasa, tubuh dan logika dapat berjalan selaras dengan saya. Itulah modal bagi seorang aktor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *