Seniman

Holifah Wira

Catatan Keaktoran

Yang Sedang Berserakan

Holifah Wira

 

“Latihan seringkali hanyalah

proses merawat gairah

yang jauh dari tiang pancang ujungnya

pertemuan dengan karakter

dan titik hampa

keputusasaan.”

 

Saya hampir tidak pernah berhasil memerankan sesuatu. Makna dari tubuh yang bergerak seperti pecahan dan patahan yang berserak—laku.

Selama mengalami proses di pertunjukan Lab Teater, seringkali saya (atau kami) menyusun penokohan dan karakter yang dibangun dari persoalan diri—sebuah pribadi. Sebelum berangkat ke naskah pertunjukan, kami selalu melakukan monolog untuk menguji metode yang tepat dalam pembangunan karakter. Biasanya struktur penokohan berangkat dari hal-hal yang dekat dengan tubuh sehari-hari.

Tiba-tiba saya bisa saja lupa bagaimana berjalan, berteriak, mencium, tersenyum, mengumpat, berbicara. Menatap. Dalam panggung (atau tubuh), ada hal-hal yang bisa menjadi tak terduga. Keterkejutan menemukan tubuh, menyusunnya, berbohong, bosan… sederhananya “Seorang aktor yang menyukai peran-peran dramatis bisa saja memiliki kehidupan yang anggun dan manis seperti keong  piaraan yang dicat warna warni bergambar kartun.” Setidaknya ini yang saya pelajari dari proses Mata Air Mata (2015-2016) dan Cermin Bercermin (2010). Di pertunjukan Mata Air Mata, saya adalah seorang nenek yang memiliki sepetak kebun. Seorang nenek yang merasa terganggu kabut hitam.

Realitas saya:

Saya sedang gemar-gemarnya menanam sayuran dan mempelajari pupuk organik di hutan kota.

Realitas panggung:

Pada akhir adegan tokoh nenek, saya selalu gagal memberi nama pada tokoh yang saya perankan, lalu saya mengubur diri dalam pupuk sebagai bentuk perlindungan dari kontaminasi kabut.

Realitas saya:

Saya terlalu jujur dan ingin berbohong.

Realitas panggung:

Di proses Cermin Bercermin saya menyusun karakter dari sesuatu yang berseberangan dari diri saya sendiri. Saya ingin berbohong, dan hanya panggung yang bisa menjadi medium saya berbohong.

Realitas panggung:

Saya bernama Sabrina dalam salah satu adegan. Sabrina adalah pemakan maniak. Ia tidak pernah bisa makan kecuali berbahan daging dari binatang buas dan langka. Pada akhir hidupnya, ia merasakan lidahnya mati, tidak bisa mengecap. Saya memberi judul lidah mati dalam monolog itu, dipentaskan dalam pertunjukan Monolog 6 Aktor. Struktur naskah monolog yang sudah dibuat bisa saja diruntuhkan lagi oleh sutradara pada saat pembuatan naskah drama.

***

Setiap pertunjukan di Lab Teater memang mempunyai titik berangkat yang berbeda. Pada proses kubangan kedua, gagasan dari sutradara hanyalah sebuah pertanyaan. Kenapa kita bergetar? Lalu muncul beragam jawaban dari para aktor dimulai dengan jawaban dari segi kesehatan, psikologi, agama, emosi sampai dari segi spritualitas. Dari pengetahuan-pengetahuan yang terbatas itu kami melakukan eksplorasi lebih dalam. Di dalam prosesnya ini kami harus menguasai beberapa keterampilan gerak yang membutuhkan latihan sangat keras.

Beberapa dibangun dalam pengadeganan di luar tubuh aktor. Naskah yang dibangun juga merupakan teks yang dihasilkan dari kumpulan kisah-kisah naratif yang ada dalam tubuh aktor. Dalam konteks, ketika semua orang kian meninggalkan naskah drama, konon sebagai fesyen dalam teater, bagi saya tidak begitu mudah saya terima. Saya tetap menyukai naskah drama walaupun naskah seringkali sangat otoritatif terhadap tubuh yang telah dibangun. Saya pikir yang terjadi di panggung Lab Teater adalah bagaimana benturan dan keseimbangan terjadi antara tubuh dan naskah atau naratif yang terbangun.

Beberapa bulan yang lalu, sekitar Juli 2017 saya mencoba mengeksplorasi beberapa kemungkinan dalam pertunjukan yang saya sutradarai, Penjara Hujan. Saya berangkat dari pemilahan jenis pemeranan, eksplorasi anti-teks dan café sebagai kolase aktor. Saya menyadari banyak hal justru merupakan pergulatan di luar teater yang saya bawa ke dalam pertunjukan. Mungkin ini bukan semacam retorika using bahwa setiap dari kita, publik teater, menyadari bahwa realitas adalah referensi paling kuat dalam pertunjukan.

 

(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *