Seniman

Aseng Komarudin

Catatan Keaktoran

Aseng Komarudin

Membuat dan menawarkan sesuatu yang digagas oleh sutradara itulah yang saya lakukan ketika berproses sebagai aktor di Lab Teater. Tentunya dengan menggali kembali memori sadar dan alam bawah sadar saya yang berhubungan dengan gagasan yang ditawarkan.

Observasi jadi bagian yang penting untuk mengakrabi peristiwa yang ditawarkan. Kkeriuhan pasar, berhimpitan di gerbong kereta api Jakarta – Rangkasbitung, atau nongkrong di halte selesai latihan, jadi tempat yang asyik buat menjaga jarak dari proses garapan yang dilakukan. Nah! Di tempat tempat seperti itu bebunyian, aroma, lalu lalang manusia, jadi hal yang menarik buat bekal latihan. Imaji yang saya dapatkan hasil “jalan-jalan” itu saya tuangkan ketika latihan. Bergerak bebas mengikuti imaji yang saya dapatkan, tanpa berpotensi untuk membuat bentuk. Bermain main dengan tubuh dan bunyi adalah hal yang paling menyenangkan yang saya lakukan. Kadang dengan begitu saya menemukan apa yang digagas oleh sutradara.

Tak jarang juga untuk mengarah menuju gagasan sutradara, saya melakukan pendekatan bentuk terlebih dahulu. Setelah bentuk terwujud, baru saya memaknainya. Berbahagia dalam pencarian itu jadi modal dasar saya untuk menemukan gagasan yang diinginkan. Saling menawarkan hasil pencarian bersama teman-teman, baik menggunakan tubuh ataupun bunyi, itu juga hal yang menyenangkan untuk membuat irama bersama. Saling merespon satu sama lain, berbicara apa saja, dan saling melontarkan dialog adalah hal yang sering kita lakukan untuk mendapatkan teks pertunjukan. Saya menyebutnya meracau. Jangan dilupakan, kita juga mengobrol dan berdiskusi dalam setiap proses penciptaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *