Seniman

Ale Utsman

Catatan Keaktoran

Aktor: Dalam Pencarian

Ale Utsman

 

Isi pikiran yang umum bisa terjadi pada siapapun. Kala itu masih asyik melakukan rutinitas yang aku anggap sebagai kesenangan. Sebagai mahasiswa tahun pertama, punya latar belakang anak kampung. Yang dulu merasa senang bila menjumpai kendaraan hilir mudik di jalan raya. Karena untuk menyaksikan hal demikian, aku harus mengantarkan ibu ke pasar saat libur sekolah. Mesti menempuh perjalanan sepuluh kilometer mengayuh sepeda ontel dengan keranjang sayur di sisi kanan kiri. Sedangkan ibu duduk diantaranya, tangannya mencengkeram perutku karena goncangan saat melewati entah berapa ratus lubang jalanan. Ini sekelumit kesenangan masa-laluku.

Kesenangan sedang berada dipuncaknya. Segala yang baru begitu cepat melaju, menembus batas nanar. Sensasi panca indra tak dapat ditakar. Segala pertanyaan mesti aku temukan jawabannya. Banyak berseliweran kesenangan menyapaku. Semacam keseruan yang aku saksikan pada salah satu kelompok UKM UIN Syarif hidayatulloh Jakarta. Sepulang kuliah aku sering menyaksikan mereka berlatih bersama disekitar area kampus. Sepertinya mereka sedang berada di dunia lain, pikirku. Lantas aku mulai mencari tahu bagaimana dapat bergabung dan menikmati keseruan seperti yang mereka rasakan. Kemudian aku tergabung sebagai anggota setelah melewati beberapa tahap tes dan pembinaan. Sampai akhirnya aku berkesempatan ikut dalam garapan “Perahu Putih” yang disutradarai oleh Aris Budiono. Bukan perjalanan yang singkat. Aku menemukan fakta baru bahwa kesenangan bukan hanya tertawa, melainkan perpaduan segala rasa. Baik yang baru maupun yang lama. Tantangan berikutnya adalah rasa bosan!

Beberapa tahun mengembara mencari pengalaman baru. Hariku begitu naif karena bergerak hanya bermodalkan intuisi. Sedangkan aku sendiri belum menemukan cara saat dihadapkan dengan sesuatu yang menguras air mata. Aku bagaikan anak baru lahir yang ditinggalkan induknya ditengah hutan belantara. Persoalannya aku berada ditengah kota. Siapa yang akan memangsaku?

Sesekali aku dapat menepis pikiran manja itu. Sesekali menyibukkan diri sekedar mengusir sepi dan rasa lapar. Aku ikut bekerja serabutan. Dari mulai mengecat rumah, asisten tukang sablon ataupun suruhan para seniorku saat mereka ingin bermanja ria di akhir pekan. Bagaimana dengan pendidikanku? Perlahan aku mulai ragu. Dapatkah selembar kertas itu menjamin kebebasan yang sedang aku cari? atau meneguhkan khayalanku, yang ingin beristri tiga? Ah, angin begitu kencang. Tembok pun akan roboh apalagi hanya selembar kertas. Aku hanya perlu meyakinkan diri, semoga jalan yang aku pilih tidak terlalu buruk di mata para penjaga toko swalayan. Yang tanpa tau siapa diriku. Mereka selalu menyapa dengan salam lembut dan manis. Tantangan selanjutnya, menyelami diri!a

Hampir dua tahun terlunta sebatang kara, hidup di perantauan. Menghindari saudara, teman atau siapapun yang hendak menawarkan jasa. Mendadak menjadi penyair sosmed, meski tak melahirkan karya kompilasi ataupun Antologi puisi. Kulit keriput, punggung melengkung, mata berkantong, gigi menguning, rambut menggumpal. Mirip siapakah aku dalam karakter tokoh pewayangan? Pertanyaan ini yang kemudian menghantui hariku. Terus menyudutkanku menuju alam bawah sadar. Bagai daun kering yang gugur di musim banjir. Aku tak menemukan jejak masa lalu untuk dikenang. Lalu bagaimana dengan masa depan?

Pada suatu hari…

Mata air telah digali. Dekat sungai yang ditumbuhi rimbun pohon bambu serta segala rupa pohon berbuah lainnya.

“Coba rasakan! kita seakan jauh dari keramaian kota” kata seseorang yang belakangan ini mulai asyik diajak berdiskusi.

“Kamu sudah terlalu lama menyia-nyiakan waktu. Sampai tidak kamu sadari waktu berbalik memburu nafasmu..” Terdengar seperti sabda.

Sepintas pikiranku melayang pada bayangan nenek. Beliau pernah berpesan:

“Belajarlah yang sungguh. Carilah guru yang memiliki guru. Tanggung jawabmu bukan pada yang hidup saja. Kamu akan bertanggung jawab atas dirimu di alam yang lain juga. Sesulit apapun, tetaplah berusaha menjadi orang baik..” Pesan ini disampaikan oleh sepupu pertama. Karena detik terakhir kepergiannya. Aku sedang berada di antah-berantah.

Percayakah kamu, ketika sepi, seseorang akan lebih sering berpikir dan berhayal?

Percayakah kamu, disaat ramai, seseorang akan berpura-pura menjadi orang baik?

Percaya atau tidak, panggung teater bukan sekedar ruang kreatif yang diperoleh dari pertemuan dimeja makan, warung kopi, atau teras rumah.

Sebagai seorang aktor aku akan mencari cara untuk hidup seratus tahun lagi.

Sebagai seorang aktor aku akan mencari cara untuk menghibur diri.

sebagai seorang aktor aku tak perlu mencari cara untuk menjadi siapapun.

Aku adalah bagian darimu, darinya, dari semua yang hidup dan yang mati.

Ciputat, 21 November 2017

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *