Sinopsis

Kubangan

Kubangan

 

Mulanya ruang pertunjukkan dibangun untuk menggambarkan zaman pencitraan yang sempurna seolah menyakitkan di atas bumi. Padahal dominasi pikiran masyarakat modern yang menelurkan sistem beku telah membuat penjara bagi mereka. Tubuh-tubuh mereka menjadi panik dalam merespon situasi mampet yang terus berlangsung. Dan tubuh-tubuh itu tak punya pilihan kecuali harus melakukan penyesuaian atas percepatan zaman yang terjadi. Kemudian mereka pun berperilaku cepat dan mekanis.

Pada fase berikut berbagai sistem yang telah membeku menguakan banyak korban yang mengalami trauma pada hidup ingatan-ingatan pahit muncul menderas dari ruang bawah sadar para korban. Menekan pikiran dan kenyataan inderawi sampai ruang pribadi mereka. Tubuh tubuh tertekan, tercampakkan dan mereka memberontak dari pikiran dan perasaan yang tidak mampu bekerjasama, Lalu, muncul tubuh tubuh yang terus menurus bergetar dalam ruang personal yang menyiksa kemudian tumpah ruah dalam ruang publik yang meriah dan lampa.

Kehampaan hidup orang-orang yang terbelah dimanfaatkan pasar kapitalis yang lebih banyak menawarkan kenikmatan inderawi. Kepandaiannya dalam mengemas segala produk membuat tubuh massa menjadi komsumtif sekaligus hedonis. Tubuh diagungkan dan diperjual belikan tanpa memerdulikan apapun dan dengan cara bagaimanapun mereka didagangkan, Padalal beragam persoalan masa lalu yang membuatnya trauma belum terselesaikan. Prinsip, nilai-nilai dan hukum ditelikung atas nama kekeluargaan dan persatuan. Maka dalam kondisi mental yang masih gagap dan cara berpikir yang masih lugu, tubuh diproyeksi (dipaksa ikut trend) menjadi barang dagangan model.

Rekayasa manis para kaum kapitalis yang memosisikan masyarakat menjadi objek pasar membuat massa menjadi tidak sadar dengan apa yang dinikmati. Mereka merasa bahwa jati diri dan harga diri telah mereka temukan. Maka dalam situasi yang tidak mampu dikenali lagi siapa sumber rekayasa bermasalah itu, badan kehilangan mitra yang bisa mengontrol sifat hedonisnya. Pada saat seperti itulah, pasar (kaki tangan kapitalis) akan jadi pengendali. Tubuh tak memiliki kuasa lagi, lalu pasrah menjadi boneka. Pikiran dan perasaan massa menjadi tergerus meski sesaat berusaha menampakan kesejatiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *