Sinopsis

Suluk Sungai

| Karya dan Sutradara Abdullah Wong

 Invidualitas manusia semakin jelas terasa ketika dirinya tengah melakukan perjalanan spiritual. Baginya, kedamaian dan kebahagiaan batin adalah segalanya. Dalam perjalanan batin itu, segala apapun yang berlangsung di luar dirinya, hampir terabaikan. Perjalanan batin yang demikian personal tentu asik dan memabukkan. Tapi ternyata, peristiwa demikian itu bukan perjalanan batin yang sebenarnya. Perjalanan yang semacam itu hanyalah sebuah anggapan semata sebagai perjalanan batin. Dan bila perjalanan demikian yang ditempuh, maka yang sesungguhnya berlangsung hanya pemuasan ego dirinya sendiri belaka. Perjalanan yang seperti itu sebenarnya sedang mencari kepuasan diri semata. Yakni kepuasan untuk memenuhi kemauan dirinya sendiri.

Pentas ini berjudul Suluk Sungai. Suluk yang bermakna “jalan,” merupakan potret realitas manusia yang tengah menempuh perjalanan kehidupan. Selain bermakna “jalan”, suluk juga kidung atau tembang. Sedangkan sungai adalah lambang dari kemengaliran atau kehadiran yang terus berkesinambungan. Sehingga Suluk Sungai dapat diartikan sebagai jalan, tembang, kidung yang berkesinambungan. Disebut berkesinambungan, karena air sungai yang senantiasa mengalir itu “bukan atas” kemauan dirinya. Karena terkadang, air sungai mesti menabrak batu, menabrak bibir sungai, hingga diserap oleh matahari untuk kemudian diteruskan menjadi hujan.

Dalam pentas ini, tiap lakon hadir pada sebuah perjalanan. Perjalanan personal yang mereka yakini sebagai perjalanan spiritual. Selama perjalanan itu, mereka hanya asik dengan dirinya sendiri, tanpa peduli pada realitas yang berlangsung. Dalam perjalanan yang melelahkan itu, mereka pun mulai sangsi pada dirinya sendiri. Kesangsian mereka muncul lantaran mereka merasa bahwa perjalanan tak kunjung usai. Mereka tidak sadar, bahwa perjalanan untuk memenuhi ego adalah perjalanan sisifus yang melelahkan. Karena selama si aku belum selesai, maka si aku akan terus menerus mencari-cari apapun yang belum dipahami si aku.

Padahal, perjalanan batin adalah perjalanan ulang alik dimana langkah akhir menjadi langkah awal sekaligus langkah awal menjadi langkah akhir. Sehingga perjalanan batin adalah perjalanan kekinian. Bukan perjalanan kenangan masa lalu, bukan pula mimpi-mimpi di masa nanti. Hal ini persis sebagaimana sungai yang mengalir. Selama sungai mengalir, maka selama itu pula kekinian selalu berlangsung. Bukankah air sungai yang kita saksikan adalah sungai kekinian. Bukan air sungai tadi yang telah mengalir jauh.

Dalam karya ini, tiap lakon mengalami persitiwa batin itu. Ketika mereka mentok pada pengulangan yang tak ada ujung itu, mereka kemudian mencoba mengubah haluan. Bagi mereka, perjalanan spiritual adalah menyepi dalam ruang-ruang kesendirian. Mereka pun mulai menyusun benteng demi benteng untuk menutupi dirinya sendiri. Upaya menutupi diri dengan benteng-benteng itu dilakukan semata-mata demi harapan dirinya tidak dapat diganggu oleh siapa pun. Seakan, pihak lain dari luar dirinya hanyalah penghalang yang akan menganggu perjalanan batinnya. Laku sembunyi dari semua anasir alam pun ternyata tak membuat diri mereka menemukan kesadaran Sejati. Mereka pun kembali menghancurkan benteng-benteng itu.

Ketika benteng yang mengelilingi mereka dihancurkan, mereka mulai mencari kemungkinan lain. Mereka menaiki tiang-tiang tinggi sebagai ekspresi pencapaian derajat yang lebih luhur. Selama berjuang menaiki tiang-tiang itu, mereka terjatuh, terjungkal dan terpelanting. Ketika mereka berhasil naik, mereka pun tak menemukan apa-apa. Di atas tiang-tiang itu, mereka hanya bisa memuntahkan kekesalan mereka. Setelah puas melepaskan segala kedundahan, mereka terjun ke bawah dan mencoba menyelami sesuatu yang selama ini tidak mereka sadari keberadaannya. Apa yang mesti diselami itu sesungguhnya begitu dekat. Tapi justru karena begitu dekatnya, mereka abai bahkan lalai untuk mau mengamati dirinya sendiri.

Pada titik itulah mereka gamang, gelisah dan murka. Mereka pun bertarung. Mereka berupaya menghancurkan tiang-tiang yang tak lain adalah perwujudan dirinya sendiri. Perjalanan kembali dimulai ketika mereka melakukan ritual mengafani tiang-tiang pancang itu. Setelah mereka mengafani tiang-tiang itu, mereka pun kembali menaiki tiang dengan penuh ketulusan dan kekhusyukan.

Di atas tiang, mereka hening. Mereka pasrah. Bahwa perjalanan batin bukan ditempuh dengan kemauan diri yang dipenuhi ego. Tapi sebuah peristiwa penjemputan indah oleh Sang Pemilik Keheningan.

 

 

***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *