Sinopsis

Mata Air Mata

Tuamata mengggali sumber mata air tua. Menggali harapan dari sesuatu di masa lalu yang tak kunjung dia temukan. Panas dan Hujan selalu datang. Bahkan banjir seringkali datang. Tapi sumber itu tak pernah lagi memberi tanda akan kembali mengeluarkan air. Orang-orang sudah lama melupakan tempat itu. Orang-orang hanya bisa perilakunya. Saat yang bersamaan mereka bergunjing dan saat yang bersamaan mereka bingung pada ketegaran hati Mata. Sebab Tuamata tak pernah merasa dirinya seperti sisi yang sia-sia. Mata tuanya tajam dan jauh. Jiwanya tenang dan dalam. Meski seringkali menitikan ketika melihat kerlip sunyi mencekam dan menusuk aliran nafasnya. Nyi Shima, Penyimpan air di hutan bambu adalah sahabat lama Nyi Dara yang tak pernah terlupakan. Nyi Dara selalu menggunakan sisa rambut Nyi Shima, daun bambu yang mengering dijadikan pupuk tanaman sayurannya. Suatu ketika Nyi Shima menyesali sikap Nyi Dara yang pesimis. Tak punya semangat untuk memperbesar distribusi produk agrobisnisnya, hingga membiarkan tubuhnya dikubur pupuk. Nyi Shima merasa bahwa Nyi Dara terlalu cengeng. Padahal apa yang digelutinya lebih realistis dari apa yang dilakukan Tuamata. Bagi Nyi Shima, Tuamata hanya dihantui kenangan indah yang terus membuntutinya. Maka mencari dan menggali kembali mata air tua yang kering, hanyalah kesia-siaan. Sosok Kabut Asap membutakan hati dan mimpi Tuamata. Mendominasi semua pikiran dan hati para tokoh. Ia mempengaruhi kabut malam, kabut air dan kabut pagi untuk menjadi bagian dari misinya. Ia meminta Nyi Dara untuk menerima ia meminta Tuamata juga untuk ikut serta melenyapkan rumpun bambu yang dijaga Nyi Shima. Minimal ada dua kepentingan. Air Sulingan Nyi Shima akan segera mengalir ke mata air tua sebagaimana diinginkan Tuamata untuk menjadi obat seribu penyakit. Kepentingan kedua, kawasan rumpun bambu akan diganti dengan tanaman dan tanaman produktif demi komersialisasi kawasan.

 

 

***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *