Sinopsis

Cermin Bercermin

Adalah metafor sekaligus simbol dari kenyataan hari ini. Sebuah kondisi objektif yang membuat orang hanya terperangah pada sesuatu di luar dirinya. Keadaan yang menjadikan orang lebih sibuk untuk menyaksikan dan mengikuti apa yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Sebagaimana kecenderungan orang saat menggunakan cermin, mereka hanya asyik memandang pantulan sebatas fisiknya dan terdorong keras untuk selalu menyempurnakannya sesuai hasrat-pikiran (selera masyarakat).

Mereka adalah orang-orang yang minus kesadaran diri dan nilai kultural. Konsep hidupnya yang pragmatis telah mendarah daging, bahwa hasil dari usaha yang berupa materi merupakan tujuan utama. Tak ada pilihan selain itu. Mereka menampik pemahaman bahwa rizki, mati dan jodoh adalah takdir atau semacam misteri. Dalam arti kerja dengan pengabdian yang total adalah lebih utama, apapun bentuknya, daripada hasil materi yang datang kemudian. Sebab itu hanya semacam apresiasi dan reflek tak langsung dari apa yang tengah dikerjakan/diperjuangkan seorang hamba. Karenanya kebutuhan materi hanyalah penunjang bagi kelangsungan hidup manusia dalam kehidupan semesta.

Kenyataan hidup hari ini adalah bahwa makna dan nilai kemanusiaan telah mengalami reduksi dan terpinggirkan hingga titik nadir. Sesuatu yang datang dari kedalaman menjadi sangat murah dan tak lebih berharga dari sesuatu yang berada di permukaan. Sebagaimana ketika lapisan pantulan yang nampak dari antara dua cermin yang makin kabur dan buram, tidak dapat terjamah, tertangkap dan terkenali dengan baik oleh mata-rasionallitas manusia. Padahal itulah kekuatan dalam diri dan nuraninya yang mengandung keluasan makna dan nilai luhur. Lapisan bayang dalam cermin adalah simbol yang tidak dilihat sebagai yang dapat mematangkan hidup setiap orang bila mampu menguaknya. Sebaliknya, Ia hanya berhenti sebagai benda fungsional saja demi kesempurnaan citra ke-akuan-manusia tanpa kesadaran dan kepercayaan diri atas kekuatan dan potensi lokalnya.

 

Sinopsis

Di sebuah kampung pinggiran kota, hidup sekelompok orang dengan latar belakang profesi dan konsepsi hidup yang stereotype, dengan ragam alasan realistis disebabkan tekanan hidup yang dialami setiap orangnya. Sebutlah seorang bernama Bandrio, mantan aktivis mahasiswa yang berprofesi sebagai calo proyek di berbagai departemen pemerintahan. Padahal dulu dia dikenal sebagai pejuang idealis yang sangat disegani di kalangan mahasiswa. Tokoh lainnya, Barkah, mantan santri dan guru di Brebes yang saat ini memilih profesi sebagai pedagang MLM. Sebuah dunia mimpi yang mengeksploitasi hasrat menjadi kaya. Keduanya bertemu di ruang tunggu. Barkah menawarkan sebuah barang dagangannya kepada Bandrio yang baru saja bertemu dengan seorang politisi bernama Dendles. Sampai pada suatu perdebatan yang memblunder antara keduanya. Perdebatan kosong yang sesungguhnya hanya membongkar borok keduanya. Di pihak lain, seorang guru ngaji sedang asyik dalam sebuah obrolan serius dengan seorang bidan yang baru lulus kedokteran. Keduanya adalah calon suami istri. Mereka berdebat seputar hukum moral-agama dan hukum positivistik ilmu yang tidak ada ujung pangkalnya dan nyaris baku hantam. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menggagalkan rencana pernikahannya. Suatu hari terjadi gemuruh berita penangkapan besar-besaran pejabat Negara yang menjadi tersangka korupsi. Usut punya usut, salah satu di antaranya adalah Dendles, Mantan petani desa yang memutuskan menjadi politisi itu, dengan harapan dapat merubah system Negara demi kesejahteraan petani. Peristiwa demi peristiwa terus bergulir hingga muncul tokoh relawan dan mahasiswa yang ternyata terlibat dalam transaksi politis demi menyelamatkan dana haram yang mengatasnakaman keduanya dari sebuah rekening bank.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *