Sinopsis

Pulang Babang

Di akhir musim, tepatnya di pergantian musim, di sebuah hari yang sangat teduh. Sebuah kapal dari arah matahari terbit mendekat ke dermaga. Orang-orang menyambut kepulangan Jafar, ayah Ba­bung, dengan kebahagiaan yang luar biasa. Seperti upacara, semua dilakukan dengan kesadaran, ketulusan, kebanggaan dan keyakinan pada laut. Semua bernyanyi dan menari. Namun Kodir, ayah Bubung, tak pulang bersama rombongan. Kabarnya, dia bersama lima awak kapalnya melanjutkan mencari ikan ke arah timur Jawa.

Mbok Mar, istri Kodir, menginginkan anaknya yang bernama Bubung untuk bertahan di pulau. Membantu orangtua sekaligus mengembangkan apa yang ada di pulau untuk kepentingan ekonomi keluarga. Mbok Mar menilai bahwa setelah pulau dibuka menjadi destinasi wisata, tentunya akan banyak tamu yang mem­butuhkan jasa orang lokal. Dengan demikian akan mendatangkan keuntungan secara ekonomis. Sikap itu ditentang Bubung. Baginya, pulau sudah terlalu padat dan membuatnya stres. Satu-satunya jalan adalah pergi ke kota untuk mencari pengalaman dengan bekerja dan kuliah. Jalan ini bagi Bubung adalah jalan te­pat untuk mengumpulkan kekuatan sebelum kembali pulang untuk membangun pulau yang sesungguhnya. Sebaliknya bukan memenuhi kebutuhan pelesiran orang daratan.

Lain halnya dengan keluarga Babung. Bapak dan ibunya berharap kepadanya untuk merantau ke darat. Selain karena pulau sudah sesak oleh makin padatnya penduduk, juga karena arti kesuksesan baginya adalah ketika seseorang sudah memiliki gelar dan uang banyak. Sebaliknya, bagi Babung, pulau saat ini membutuhkan anak muda yang mau menjaga tradisi nenek moyang. Tak aneh, bila dia sangat aktif dalam setiap kegiatan kemasyarakatan, mengumpulkan cerita legenda dari beberapa tokoh masyarakat, berlatih silat, berjualan makanan khas, membersihkan pantai dan membersihkan makam tua.

Kedua anak yang masih memiliki ikatan saudara itu mempunyai impian dan kegelisahan yang sama: bagaimana membangun masa depan Pulo yang lebih baik di saat Pulo menjadi destinasi wisata dan ketida­kberdayaan nilai budaya dan tradisi lokal menjadi benteng moral masyarakat hari ini. Karenanya, Babung dan Bubung beserta teman sepermainannya, selalu menghabiskan waktu bersama di pantai. Mereka saling bertukar cerita, diselingi senda gurau dan sesekali membangun mimpi di kepala masing-masing sambil mendengar cerita legenda Pulo dari pak Buang. Cita-cita mereka mungkin berbeda, namun persahabatan mereka adalah energi yang saling memotivasi untuk meraih masa depan.

Waktu terus berjalan, Bubung membawa misi pengembangan budaya pulau ke kota. Dia melakukan nego­siasi dengan berbagai pihak. Sementara, Babung terus bekerja di pulau sambil meminta dukungan berbagai tokoh masyarakat untuk merealisasikan impiannya itu. Bersama sejumlah temanya mereka mulai melaku­kan tindakan nyata. Mereka membuat taman bacaan, sanggar kesenian, kursus-kursus, promosi makanan khas Pulo dan mendokumentasikan peninggalan tradisi masyarakat yang masih berlangsung. Anak-anak dan orang dewasa menyambut hangat kegiatan tersebut.

 

 

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *