Catatan Seniman,  News

“Antara Taksu Pulau Dewata dengan Mantra Bisu” (Bagian 1)

Pagi seperti masih buta bagi daun mataku yang seperti digelayuti makhluk tanpa rupa. Pesawat yang kutumpangi melesat jauh membelah awan tepat pukul 07.35, jauh meninggalkan ibu kota. Belajar dan bahagia yang bisa kutanamkan dalam diri untuk menikmati perjalanan ini. Setelah lama perjalanan selama 1 jam 35 menit, pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulus di bandara Ngurah Rai, Bali Pulau Dewata.

Taksu, itulah pertama kali di benakku tentang Bali Pulau Dewata. Semacam memiliki energi gaip positif yang memberi kecerdasan, keindahan, mukjizat, bagi penghuni dan setiap makhluk yang senantiasa untuk hadir. Bau aroma dupa atau hio: kasturi, melati, cendana, dan berbagai uba rampe sesaji beraneka rupa yang dibawa perempuan Bali sangat menyejukkan mata. Mereka memberikan persembahan untuk Dewata sebagai wujud rasa syukur. Sepertinya perjalananku kali ini benar-benar tidak hanya membawa misi kebudayaan saja tetapi perjalanan spiritual.

Sesampainya kami di lokasi, Yayasan Bali Purnati suasana mistis semakin pekat. Bukan karena rimbunya pepohonan dan bentuk bangunan yang menawan. Tapi kedatangan kami disuguhi dengan puja mantra yang dirapalkan seorang bisu dari Tanah Pengaderen (yang memelihara, memuliakan manusia, kemudian membangun kebersamaan, dan saling mengingatkan) .Mantra yang terucap bukan terlontar begitu saja atau tanpa sebab dari bisu tersebut. Mantra adalah simbol pemujaan kepada roh para leluhur dan penguasa alam semesta. Walaupun hanya sekedar kata-kata, namun kata-kata itu dirapalkan oleh seorang yang dianggap suci sehingga langsung dapat berkomunikasi dengan Sang Mpunya Jagat.

Awalnya saya pribadi tidak mengerti apa tujuan dari ritual tersebut. Karena jika dipikir secara logika, orang bodoh seperti saya ini tidak ada hubungannya kebudayaan dengan mistisisme. Tapi setelah saya mendapat informasi dari seorang teman dan beberapa referensi buku yang saya baca. Ternyata naskah yang kami akan bawakan yaitu I La Galigo adalah sebuah naskah sakral yang dituliskan para leluhur tanah Bugis. Awalnya saya tidak mengerti dengan rapal yang dilontarkan bisu tersebut. Kata-kata tersebut terasa begitu asing. Namun setelah mendengarkan dengan seksama dan penuh pengkhayatan, ada beberapa bagian kalimat yang menyebutkan malaikat dan Dewa Bathari. Dari sini saya mulai mengerti apa maksud dari mantra tersebut. Mantra demi mantra mengalir begitu lembut mengisi seluruh ruangan bahkan sudut penjuru Bali Purnati. Dengan piring yang berisi sesaji dan dupa di tangan, bisu merapal mantra dengan penuh khidmat. Dan semua pemain I La Galigo mengkhayati dengan hormat.

Naskah I La Galigo adalah sebuah epos, cerita kepahlawanan yang berupa syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan. I La Galigo tidak hanya sebuah epos saja, tetapi dia sendiri adalah sureq yang berisi kisah atau ajaran yang adi luhung. Jika demikian, maka tidak heran sebelum melakukan pementasan, naskah ini harus dilakukan ritual penyucian dan pemujaan terhadap leluhur. Sebagai bentuk permohonan izin agar selama proses latihan dan pementasan nanti dapat berjalanan dengan lancar.

Beruntungnya saya pribadi dapat menginjakan kaki dan berproses di pementaasan kali ini. Energi yang saya terima di hari pertama sudah begitu nyata dan kuat. Energi itu berupa perpaduan Taksu Pulau Dewata dan Mantra Bugis. Itulah Nusantara: Terima Kasih Bali Purnati dan Bumi Purnati.

 

Catatan Eko Yuds
Aktor I La Galigo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *