• Terjepit

    Ingatan pahit itu berjejalan sesak di antara; gedung-gedung yang menjulang, harga sembako, yang janji-janji, yang menjadi pasal, yang semu, palu-palu hakim yang patah, yang tumpang tindih, mal-mal yang menjamur, jalan-jalan yang semakin lapang, kekerasan yang tak kunjung, barang-barang impor yang makin meraja, rangkaian peristiwa yang bersusulan, dan di antara gosip murahan manis diperdagangkan. Kami hanya mau bilang bahwa kami masih ada Sebab nafasmu tetap aku hirup. Menjadi api kecil dalam jiwaku Menjadi melati yang terus kubawa antara parade klakson dan iklan yang acuh. Tubuh ini yang semakin lapuk punya mimpi yang sama.     ***

  • Pulang Babang

    Di akhir musim, tepatnya di pergantian musim, di sebuah hari yang sangat teduh. Sebuah kapal dari arah matahari terbit mendekat ke dermaga. Orang-orang menyambut kepulangan Jafar, ayah Ba­bung, dengan kebahagiaan yang luar biasa. Seperti upacara, semua dilakukan dengan kesadaran, ketulusan, kebanggaan dan keyakinan pada laut. Semua bernyanyi dan menari. Namun Kodir, ayah Bubung, tak pulang bersama rombongan. Kabarnya, dia bersama lima awak kapalnya melanjutkan mencari ikan ke arah timur Jawa. Mbok Mar, istri Kodir, menginginkan anaknya yang bernama Bubung untuk bertahan di pulau. Membantu orangtua sekaligus mengembangkan apa yang ada di pulau untuk kepentingan ekonomi keluarga. Mbok Mar menilai bahwa setelah pulau dibuka menjadi destinasi wisata, tentunya akan banyak tamu…